Andai RUMAH SAKIT Indonesia Seperti Ini!!
Ada cerita pengalaman kakak saya, berikut kutipannya.....
* * *
Pada awal bulan Juni, tepatnya tgl 06 - 13 Juni 2009, saya mendapat tugas dari kantor ke Madrid, Spanyol. Saat cek-in di Soekarno-Hatta, sudah terasa ada kelainan di kepala, and perut. Untuk perjalanannya, sekitar 24 Jam (incld transit, dll).
Sesampainya di Madrid, saya sakit, dan mencoba istirahat di Hotel selama 2 hari. Tetapi, akhirnya tidak kuat juga, dan harus masuk/dirawat di R.S. Madrid.
Berikut pengalaman mulai berangkat dari Hotel :
- Saya pikir, cukup istirahat saja di Hotel, tetapi saking tidak kuatnya (saat itu, yang ingat hanya "meninggal di Hotel"), shg. terpaksa turun mencari taxi untuk ke R.S.
- Pas ketemu taxi, sopirnya tidak bisa bhs. Inggris (ditambah saya nya juga pas2an). Untungnya dia melihat saya kondisi sakit, shg langsung dia bawa ke R.S (ke UGD).
- Pas masuk ke R.S Hospital U. La Paz Salud Madrid, saya duduk dekat pendaftaran. Beberapa kali sempat didatangi olh suster-suster, tetapi pakai bhs Spanyol, jadi teunyambung. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, didorong do'a2 semua, seorang suster nyamperin, pas nanya, langsung dibilang "abdi mah ti Indonesia", lalu saya dibawa ke ruang pendaftaran. Karena ybs tdk bisa bhs Inggris, langsung mengantar saya dengan kursi roda ke rekannya yg bisa berbahasa Inggris. Temannya tsb langsung mendaftarkan saya sebagai pasien.
- Kebiasan di Indonesia, ada deposit di awal pendaftaran perawatan. Di sana saya mengeluarkan uang sebagai deposit 300 EURO, eh . . ternyata ditolak oleh bagian pendaftaran. Dia bilang “tidak, nanti saja, saya tidak tahu besar biayanya”.
- Kemudian saya dibawa ke ruang laboratorium R.S.
- Seseorang membawa saya dg kursi roda dari lab ke ruang periksa, dan, saat memutarkan kursi roda, eehh . . ternyata dokter sendiri yang mendorong kursi roda saya !! (Apa di Indonesia ada yg spt ini ?, mdh2an ada). Bahkan dokter tsb kembali membawa saya ke ruang lab, kemudian dokter lain membawa saya ke ruang UGD, diambil darah 4 kali, diinfus sd 6 labu, diberi obat, dll-dll.
- Kemudian saya dirontgen 2 kali, dan diputuskan harus dirawat.
- Saya menolak karena bisi lami, lebih baik pulang ke Indonesia dipercepat saja, kemudian saya diberi obat lagi.
- Setelah sekitar 8 jam, saya diizinkan untuk pulang, dengan membawa lengkap hasil lab, roentgen, dan pemeriksaan selama di R.S tsb.
- Sebelum pulang, supaya cepat, langsung ke bagian adm. untuk membayar, dan sungguh diluar dugaan, jawabannya tidak usah, tidak masalah, silahkan pulang, alias GRATIS ! ! Padahal saat daftar, saya hanya pakai PASPOR saja.
- Saya tidak pernah ditinggal selama 8 jam tersebut, minimal ada suster yang cek terus.
- Ada sekitar 7 dokter (3-L, 4-P)yang bergantian mengecek pasien2 di ruangan UGD tersebut, dan sekali-kali mereka diskusi (entah apa yg didiskusikan, pakai bahasa Spanyol).
- Setelah saya bilang tidak mau dirawat, suster langsung ngasih obat tambahan lewat infuse-an.
- SubhaanAllah, saya langsung tidak pusing, dan tidak panas lagi, tetapi dokter bialang, sesampainya di Indonesia, harus segera ke dokter, dan dirawat.
- Luar biasa pelayanan R.S. seperti ini, sudah puas, eh. . gratis pula.
- Akhirnya saya pulang dipercepat menjadi tgl 11/12 Juni 2009, dan langsung dijemput ambulance di Cengkareng Jum’at, jam 18.00, tgl 12 Juni 2009.
- Saya langsung dibawa ke R.S. Meilia, dirawat 4 hari !
- Eh . . lupa. Diagnosa di Madrid, saya kena Hepatitis. Sampai di Indonesia, hasil diagnosa DB !
- Ternyata, saya kena DB. Krn tdk ada penanganan apa2, bahkan saat di Hotel, sy merasa sdh tdk berdaya, mungkin saat itu lagi parah2nya, akibatnya fungsi hati terganggu parah. Di Spanyol, tidak populer DB, sehingga lab-nya lebih focus ke Liver.
- Sekarang (Senin, 29/06/’09), makin membaik, obat masih . . saat itu berat badan hilang 8 Kg, mudah2 sekarang sudah naik lagi.
- Terimakasih ya Allah. Terimakasih semua yang sdh membantu, peduli, dll-dll.
Wassalam.
Labels: kesehatan, Materiality, Morality, Pelayanan, Rumah Sakit

0 Comments:
Post a Comment
<< Home